..

Friends FOREVER
Image by Cool Text: Logo and Button Generator - Create Your Own
Showing posts with label Kisah Islami. Show all posts
Showing posts with label Kisah Islami. Show all posts

Wednesday, December 28, 2011

PINTU-PINTU RIZKI KELUARGA

Bookmark and Share
Rizki bagi keluaga ibarat bahan bakar bagi kendaraan bermotor, tanpanya kendaraan bermotor akan mandeg, begitu pula keluarga, tanpa rizki ia tidak tegak. Oleh karena itu masalah rizki bagi kebanyakan keluarga adalah masalah utama yang menyibukkan mereka karena ia memang pemenuh hajat hidup keluarga. Menurut pengamatan tidak sedikit keluarga yang berpandangan bahwa berpegang kepada syariat Islam mengurangi jatah rizki dan menutup sebagian pintu-pintunya, lebih parah dari itu ada yang beranggapan bahwa untuk meraih kemudahan dan kelapangan rizki maka mata harus ditutup dari batasan-batasan syariat khususnya terkait hukum halal haram, akhirnya muncul celetukan, ?Hari gini masih mikir halal-haram, yang haram saja sulit didapat lebih-lebih yang halal.?

Dalam kondisi ekonomi yang berat, orang-orang nganggur meningkat jumlahnya, akibatnya pekerjaan terasa menipis karena diperebutkan oleh angka yang besar sementara hajat hidup tidak pernah mengenal kata henti, terus meningkat jumlah dan harganya, hal mana semua itu menuntut keluarga bekerja keras mencari sebab-sebab dan pintu-pintu rizki alternatif demi memenuhi tututan hidup, bukan sesuatu yang tercela selama hal tersebut dalam batas-batas koridor yang diletakkan syariat. Hanya saja kebanyakan keluarga muslim dalam usaha mencari sebab-sebab dan pintu-pintu rizki hanya bertumpu kepada sebab-sebab materi semata di mana ia juga menjadi tumpuan keluarga-keluarga pada umumnya, maka yang terpikir oleh keluarga-keluarga tersebut adalah misalnya membuka usaha ini dan itu, berdagang ini dan itu, belajar keterampilan ini dan itu, hanya sebatas itu, titik, tidak lebih. Kita tidak pungkiri bahwa semua itu merupakan sebab-sebab dan pintu rizki akan tetapi keliru manakala yang terpikir hanyalah sebatas itu karena di samping sebab-sebab tersebut masih ada sebab-sebab dan pintu-pintu rizki lain yang jarang terpikirkan oleh kebanyakan orang dan justru ia lebih mujarab.

Sebab tersebut adalah mengetuk pintu Allah sebagai pemilik dan pembagi rizki sesungguhnya. Allah tidak membiarkan manusia tanpa petunjuk dalam mencari rizkinya, Dia telah menata dan meletakkan sebab-sebabnya. Jika manusia berkenan mengetuk pintu Allah niscaya sebab-sebab rizki akan dimudahkan olehnya tanpa keraguan. Pertanyaannya dengan apa kita mengetuk pintu Allah?

1. Taubat dan istighfar

Taubat adalah kembali kepada Allah setelah melakukan perbuatan dosa. Dan istighfar adalah memohon perlindungan kepada Allah dari dampak buruk dosa yang dilakukan. Yang dimaksud dengan taubat dan istighfar di sini bukan sebatas ucapan tanpa bukti nyata perbuatan sebab jika demikian maka ia berarti dusta. Taubat yang benar adalah taubat yang memberi bekas pada perbuatan pelakunya inilah taubat pembuka pintu rizki Allah. Firman Allah,


فقلت استغفروا ربكم إنه كان غفارا . يرسل السماء عليكم مدرارا . ويمددكم بأموال وبنين ويجعل لكم جنات ويجعل لكم أنهارا .

?Maka aku katakan kepada mereka, 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.? (Nuh: 10-12).

Kita baca bagaimana ayat di atas menetapkan janji Allah dari istighfar yakni kemakmuran hidup: hujan turun deras, harta dan anak-anak diperbanyak sebagai bukti kemakmuran, kebun-kebun ditumbuhkan yang ditopang oleh sungai-sungai sebagai sumber hidup.
Amirul Mukminin Umar bin Khattab berpegang kepada ayat di atas manakala dia keluar meminta hujan, yang dilakukannya adalah beristighfar. Begitu pula al-Hasan al-Basri, ketika dia didatangi oleh tiga orang pengadu. Yang pertama mengadukan kekeringan, yang kedua mengadukan kesempitan hidup dan yang ketiga meminta doa agar dikaruniai anak. Al-Hasan menjawab dengan satu jawab, ?Beristighfarlah.?

2. Bertakwa

Bertakwa kata Imam an-Nawawi adalah mentaati perintah Allah dan larangan Allah. Yang pertama dengan melaksanakannya dan yang kedua dengan menjauhinya. Takwa merupakan sebab dibukanya rizki oleh Allah bahkan ia merupakan sebab diangkatnya kesulitan. Firman Allah,


ومن يتق الله يجعل له مخرجا . ويرزقه من حيث لا يحتسب .

?Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.? (Ath-Thalaq: 2-3).

Hafizh Ibnu Katsir berkata, ?Maksud ayat ini adalah barangsiapa bertakwa kepada Allah dengan melakukan apa yang diperintahkanNya dan meninggalkan apa yang dilarangNya niscaya Allah akan memberinya jalan keluar serta rizki dari arah yang tidak diduga yakni tidak terlintas di benaknya.?
Senada dengan ayat di atas firman Allah,


ولو أن أهل القرى ءامنوا واتقوا لفتحنا عليهم بركات من السماء والأرض ولكن كذبوا فأخذناهم بما كانوا يكسبون .

?Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.? (Al-A?raf: 96).

3. Tawakal

Tawakal adalah menyandarkan diri kepada Allah yang diikuti dengan usaha maksimal dalam batas-batas yang dibolehkan, ia merupakan salah satu sebab yang dengannya Allah membukan rizkiNya bagi hamba-hambaNya. Rasulullah saw bersabda,


لو أنكم كنتم توكلون على الله حق توكله لرزقتم كما ترزق الطير تغدو خماصا وتروح بطانا .

?Sungguh, seandainya kalian bertawakal kepada Allah sebenar-benar tawakal, niscaya kalian akan diberi rizki sebagaimana rizki burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.? (HR. At-Tirmidzi).

Hadits ini menjelaskan bahwa barangsiapa bertawakal kepada Allah niscaya dia dilimpahi rizki yang cukup seperti burung-burung yang pergi pagi dalam keadaan perut kosong dan pulang sore dalam keadaan kenyang. Bagaimana tidak demikian sementara dia telah bertawakal kepada dzat di mana barangsiapa bertawakal kepadaNya niscaya Dia akan mencukupinya, firman Allah,


ومن يتوكل على الله فهو حسبه .

?Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.? (Ath-Thalaq: 3).
Perlu ditekankan di sini bahwa tawakal tidak berarti berpangku tangan dan meninggalkan usaha dan jerih payah, justru usaha dan jerih payah itu termasuk termasuk bagian dari tawakal. Lihatlah burung dalam hadits di atas, ia bertawakal tetapi ia tetap berangkat pagi menyongsong rizkinya di hari itu.

4. Silaturrahim

Silaturrahim adalah menyambung rahim yakni kerabat dekat dengan berbuat baik kepada mereka melalui ucapan dan perbuatan sesuai dengan tuntutan kondisi. Nabi saw telah menetapkan bahwa salah satu sebab rizki adalah silaturrahim. Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw bersabda,


من سره أن يبسط له في رزقه، وأن ينسأله في أثره فليصل رحمه .

?Siapa yang senang dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya) maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturrahim.?

Dalam hadits ini Nabi saw menetapkan bahwa silaturrahim menghasilkan dua perkara: keluasan rizki dan bertambahnya umur. Dari sini Imam al-Bukhari meletakkan bab untuk hadits di atas, ?Bab orang yang dilapangkan rizkinya sebab silaturrahim.?
Silaturrahim mempunyai pengaruh besar dalam berkembangnya harta dan menepis kemiskinan dan kesulitan hidup bahkan orang-orang yang bermaksiyat bisa berkembang hartanya disebabkan oleh silaturrahim. Ini adalah barokah silaturrahim. Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abu Bakrah bahwa Nabi saw bersabda, ?Sesungguhnya ketaatan yang paling disegerakan pahalanya adalah silaturrahim. Bahkan hingga suatu keluarga yang ahli maksiat pun, harta mereka bisa berkembang dan jumlah mereka bertambah banyak jika mereka saling bersilaturrahim. Dan tidak ada suatu keluarga yang saling bersilaturrahim kemudian mereka membutuhkan (kekurangan).?

5. Infak di jalan Allah

Yang dimaksud dengan infak di jalan Allah adalah memberikan sebagian harta kepada jalan Allah yakni jalan-jalan agama dan kebaikan seperti membantu fakir miskin, menyokong amal dakwah, mendukung jihad melawan orang-orang kafir dan yang sejenisnya.
Berinfak di jalan Allah adalah salah satu kunci rizki hal ini ditetapkan oleh beberapa dalil dari al-Qur`an dan hadits. Allah berfirman,


وما أنفقتم من شيء فهو يخلفه وهو خير الرازقين .

?Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezki yang sebaik-baiknya.? (Saba`: 39).

Perhatikanlah, ?Allah akan menggantinya,? dengan apa Dia menggantinya? Bisa menggantinya dalam bentuk pahala dan bisa pula dalam bentuk rizki karena Dia-lah pemberi rizki sebaik-baiknya. Jadi barangsiapa berinfak berarti dia meraih janji penggantian dari Allah sebaliknya adalah sebaliknya, artinya hartanya lenyap tanpa ada janji penggantian dari Allah. Harta adalah pinjaman, ia pasti akan habis karena kita pasti menggunakannya maka beruntunglah orang yang pada saat dia menghabiskan hartanya diberi janji penggantian, dengan begitu hartanya akan tetap mengalir silih berganti ditambah dengan pahala tentunya.
Nabi saw bersabda dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah bersabda,


قال الله تبارك وتعالى: يا ابن آدم ! أنفق أنفق عليك .

?Allah Tabaraka wa Taala berfirman, ?Wahai anak Adam! Berinfaklah, niscaya Aku berinfak (memberi rizki) kepadamu.?
Imam an-Nawawi berkata, ?firman Allah dalam hadits ini adalah makna dari firman Allah dalam al-Qur`an surat Saba` ayat 39 di atas.

PENUTUP

Ini adalah sebab-sebab rizki yang dijanjikan oleh Allah, hendaknya setiap muslim, khususnya penanggung jawab keluarga, meyakini demikian karena Allah swt tidak menyelisihi janji, kalaupun kita belum merasakan janji tersebut terealisir, itu tidak berarti Allah tidak menepati janji akan tetapi besar kemungkinan kitalah yang belum mampu mewujudkan syarat dari janji tersebut sehingga ia belum terlaksana, kalau selama ini kita merasakan seretnya sebab-sebab rizki maka tidak menutup kemungkinan karena kita berpaling dari Pemilik rizki dan Pembaginya dengan tidak bertaubat, bertakwa dan bertawakal kepadaNya sehingga Dia belum berkenan memudahkan, tidak menutup kemungkinan selama ini kita hanya mengacu kepada sebab-sebab materiil hasil otak-atik akal manusia semata. Jika Allah tetap memberikan rizkiNya kepada para pelaku dosa yang tidak bertaubat dan tidak bertakwa kepadaNya maka Dia lebih pemurah untuk menahan rizkiNya dari ahli takwa yang dekat kepadaNya.

Kisah Islam Mantan Bintang Pop Terkenal Yusuf Islam

Bookmark and Share
Kisah seorang artis yang bernama Cat Stevens yang (alhamdulillah) menjadi seorang muslim, kemudian ia dipanggil dengan nama Yusuf Islam. Inilah kisahnya seperti yang ia ceritakan, kami menukilnya secara ringkas.

"Aku terlahir dari sebuah rumah tangga Nasrani yang berpandangan materialis. Aku tumbuh besar seperti mereka. Setelah dewasa, muncul kekagumanku melihat para artis yang aku saksikan lewat berbagai media massa sampai aku mengganggap mereka sebagai dewa tertinggi. Lantas akupun bertekad mengikuti pengalaman mereka. Dan benar, ternyata aku menjadi salah seorang bintang pop terkenal yang terpampang di berbagai media massa. Pada saat itu aku merasa bahwa diriku lebih besar dari alam ini dan seolah-olah usiaku lebih panjang daripada kehidupan dunia dan seolah-olah akulah orang pertama yang dapat merasakan kehidupan seperti itu.

Namun pada suatu hari aku jatuh sakit dan terpaksa di opname di rumah sakit. Pada saat itulah aku mempunyai kesempatan untuk merenung hingga aku temui bahwa diriku hanya sepotong jasad dan apa yang selama ini aku lakukan hanya untuk memenuhi kebutuhan jasad. Aku menilai bahwa sakit yang aku derita merupakan cobaan ilahi dan kesempatan untuk membuka mataku. Mengapa aku berada disini? Apa yang aku lakukan dalam kehidupan ini?

Setelah sembuh, aku mulai banyak memperhatikan dan membaca seputar permasalahan ini, lantas aku membuat beberapa kesimpulan yang intinya bahwa manusia terdiri dari ruh dan jasad. Alam ini pasti mempunyai Ilah. Selanjutnya aku kembali ke gelanggang musik namun dengan gaya musik yang berbeda. Aku menciptakan lagu-lagu yang berisikan cara mengenal Allah. Ide ini malah membuat diriku semakin terkenal dan keuntungan pun semakin banyak dapat aku raih. Aku terus mencari kebenaran dengan ikhlas dan tetap berada di dalam lingkungan para artis. Pada suatu hari temanku yang beragama Nasrani pergi melawat ke masjidil Aqsha.

Ketika kembali, ia menceritakan kepadaku ada suatu keanehan yang ia rasakan di saat melawat masjid tersebut. Ia dapat merasakan adanya kehidupan ruhani dan ketenangan jiwa di dalamnya.

Hal ini berbeda dengan gereja, walau dipadati orang banyak namun ia merasakan kehampaan di dalamnya. Ini semua mendorongnya untuk membeli al-Qur'an terjemahan dan ingin mengetahui bagaimana tanggapanku terhadap al-Qur'an. Ketika aku membaca al-Qur'an aku dapati bahwa al-Qur'an mengandung jawaban atas semua persoalanku, yaitu siapa aku ini? Dari mana aku datang? Apa tujuan dari sebuah kehidupan? Aku baca al-Qur'an berulang-ulang dan aku merasa sangat kagum terhadap tujuan dakwah agama ini yang mengajak untuk menggunakan akal sehat, dorongan untuk berakhlak mulia dan akupun mulai merasakan keagungan Sang Pencipta.

Semakin kuat perasaan ini muncul dari jiwaku, membuat perasaan bangga terhadap diriku sendiri semakin kecil dan rasa butuh terhadap Ilah Yang Maha Berkuasa atas segalanya semakin besar di dalam relung jiwaku yang terdalam.

Pada hari Jum'at, aku bertekad untuk menyatukan akal dan pikiranku yang baru tersebut dengan segala perbuatanku. Aku harus menentukan tujuan hidup. Lantas aku melangkah menuju masjid dan mengumumkan keislamanku.

Aku mencapai puncak ketenangan di saat aku mengetahui bahwa aku dapat bermunajat langsung dengan Rabbku melalui ibadah shalat. Berbeda dengan agama-agama lain yang harus melalui perantara."

Demikianlah Yusuf Islam memeluk agama Islam. Setelah masuk Islam ia tidak hanya duduk di tempat ibadah menyembah Allah yang telah menguasai hatinya dengan kecintaan, namun ia melakukan aktifitas untuk kemaslahatan agama ini. Ia ikut andil di dalam berbagai lembaga dan yayasan Islam yang bergerak di bidang dakwah dan sosial. Semoga Allah memberinya ganjaran yang baik atas sumbangsih yang telah ia berikan kepada kita, agama Islam dan kaum muslimin.

TANGISAN BILAL BIN RABAH -Radhiallaahu 'Anhu, MUAZIN RASULULLAH -Shallallaahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam

Bookmark and Share
Jika nama Abu Bakar disebut, Al-Faruq Umar bin al-Khaththab -Radhiallaahu 'Anhu berkata, "Abu Bakar adalah tuan kami, dan dia membebaskan tuan kami." Yakni Bilal. Orang yang disebut Umar sebagai "tuan kami" adalah benar-benar orang yang mulia dan mempunyai kedudukan yang agung.

Ia adalah mu'adzin Rasulullah -Shallallaahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam. Ia adalah hamba yang disiksa oleh tuannya dengan batu yang telah dipanaskan un-tuk memurtadkannya dari agamanya, tapi ia berkata, "Ahad, Ahad (Allah Yang Esa)."

Ia hidup sebagai hamba sahaya, hari-harinya berlalu tanpa beda dan buruk. Ia tidak punya hak pada hari ini, dan tidak punya harapan pada esok hari. Seringkali ia mendengar tuan-nya, Umayyah, berbicara bersama kawan-kawannya pada suatu waktu dan para anggota kabilah di waktu lain tentang Rasulullah -Shallallaahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam, dengan pembicaraan yang meluapkan amarah dan ke-dengkian yang sangat.

Pada suatu hari Bilal bin Rabah mengetahui cahaya Allah, lalu ia pergi menemui Rasulullah a dan mengikrarkan keisla-mannya. Setelah itu ia menghadapi berbagai macam penyiksaan, tapi ia tetap tegar bagai gunung. Ia diletakkan dalam keadaan telanjang di atas bara api. Mereka membawanya keluar pada siang hari ke padang pasir, dan mencampakkannya di atas pasir-pasir yang panas dalam keadaan tak berbaju. Kemudian mereka membawa batu yang telah dipanaskan yang diangkut dari tem-patnya oleh sejumlah orang dan meletakkannya di atas tubuh dan dadanya. Siksa demi siksa berulang-ulang setiap hari, tapi ia tetap tegar. Hati sebagian penyiksanya menjadi lunak seraya berkata, "Sebutlah Lata dan Uzza dengan baik." Mereka me-nyuruhnya supaya memohon kepadanya tapi Bilal menolak untuk mengucapkannya, dan sebagai gantinya ia mengucapkan senandung abadinya, "Ahad, Ahad".

Abu Bakar ash-Shiddiq -Radhiallaahu 'Anhu datang pada saat mereka menyiksanya, dan meneriaki mereka dengan ucapan, "Apakah kalian membunuh seseorang karena berucap, 'Rabbku adalah Allah?'." Abu Bakar meminta kepada mereka untuk menjualnya kepadanya. Umayyah memang berkeinginan untuk menjualnya. Akhirnya Abu Bakar rhu membelinya dengan harga yang berlipat ganda dari Umayyah. Setelah itu dia membebaskannya, dan Bilal mulai menjalani kehidupannya di tengah-tengah orang-orang mer-deka... para sahabat yang taat lagi berbakti. Ketika Abu Bakar memegang tangan Bilal untuk membawanya, maka Umayyah berkata kepadanya, "Ambillah! Demi Lata dan Uzza, seandainya kamu menolak kecuali membelinya dengan satu uqiyah, niscaya aku menjualnya kepadamu dengan harga itu." Abu Bakar rhu menjawab, "Demi Allah, seandainya kamu menolak kecuali seharga seratus uqiyah, niscaya aku membayarnya."

Setelah Rasulullah -Shallallaahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam hijrah ke Madinah, Rasulullah -Shallallaahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam me-nyariatkan adzan untuk shalat, dan pilihan jatuh pada Bilal sebagai mu'adzin pertama untuk shalat. Ini pilihan Rasulullah saw. Bilal pun melantunkan suaranya yang menyejukkan dan menggembirakan, yang memenuhi hati dengan iman, dan pendengaran dengan keindahan. Ia menyeru, "Allahu Akbar, Allahu Akbar" dan seterusnya. Ketika datang perang Badar, dan Allah menyampaikan urusannya, Umayyah keluar untuk berperang... Dan ia jatuh tersungkur dalam keadaan mati di tangan Bilal -Radhiallaahu 'Anhu.

Pemimpin kekafiran mati tertusuk oleh pedang-pedang Islam sebagai balasan buat Bilal yang berteriak setelah terbunuh-nya, "Ahad, Ahad." Hari-hari berlalu, Makkah ditaklukkan, dan Rasulullah -Shallallaahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam masuk Makkah dengan ditemani Bilal. Kebenaran telah datang, dan kebatilan telah sirna. Bilal mengikuti semua peperangan bersama Rasul -Shallallaahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam dan mengumandangkan adzan untuk shalat. Ia terus menjaga syiar agama yang agung ini. Sampai-sampai Rasul -Shallallaahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam menyifatinya sebagai "seorang pria ahli surga". Dan Rasul -Shallallaahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam berpulang ke haribaan Allah dalam keadaan ridha lagi diridhai. Sepeninggal beliau, sahabatnya dan khalifahnya, Abu Bakar ash-Shiddiq -Radhiallaahu 'Anhu bangkit memimpin urusan kaum muslimin. Bilal pergi menemui ash-Shiddiq seraya berkata kepadanya, "Wahai Khalifah Rasulullah, aku mendengar Rasulullah -Shallallaahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam bersabda,


'Amalan mukmin yang paling utama ialah berjihad di jalan Allah'."*

Abu Bakar bertanya kepadanya, "Apakah yang engkau kehendaki, wahai Bilal?" Ia menjawab, "Aku ingin murabathah (siap siaga berperang) di jalan Allah hingga aku mati." Abu Bakar bertanya, "Lantas siapa yang mengumandangkan adzan untuk kami?!"

Bilal berkata, sementara kedua matanya mengalirkan air mata, "Sesungguhnya aku tidak mengumandangkan adzan untuk seorang pun sepeninggal Rasulullah -Shallallaahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam ." Abu Bakar berkata, "Tetaplah mengumandangkan adzan untuk kami, wahai Bilal." Bilal berkata, "Jika engkau memerdekakan aku agar aku menjadi milikmu, lakukan apa yang engkau suka. Jika engkau memerdekakan aku karena Allah, biarkanlah aku berikut pembebasan yang kau berikan kepadaku." Abu Bakar berkata, "Aku memerdekakanmu karena Allah, ya Bilal."

Bilal kemudian melakukan perjalanan ke Syam yang di sana ia terus menjadi mujahid dan selalu siap sedia untuk berjihad. Konon, ia berkali-kali datang ke Madinah dari waktu ke waktu ... tapi ia tidak mampu mengumandangkan adzan. Hal itu karena setiap kali hendak mengucapkan, "Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah" (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah), kenangan-kenangan masa lalu menahan dirinya, lalu suaranya tersembunyi di kerongkongannya, dan sebagai gantinya air matanyalah yang meneriakkan kata-kata itu.**

Akhir adzan yang dikumandangkannya ialah pada saat Khalifah al-Faruq Umar bin al-Khaththab -Radhiallaahu 'Anhu mengunjungi Syam. Kaum muslimin meminta Khalifah membawa Bilal agar mengumandangkan adzan untuk shalat mereka. Amirul Mu'minin memanggil Bilal, sementara waktu shalat telah tiba. Umar berharap kepadanya agar mengumandangkan adzan untuk shalat. Bilal pun naik dan mengumandangkan adzan... maka menangislah para sahabat yang pernah bersama Rasulullah saw ketika Bilal mengumandangkan adzan untuk beliau. Mereka menangis seakan-akan mereka tidak pernah menangis sebelumnya, selamanya.

Bilal meninggal di Syam dalam keadaan bersiap siaga di jalan Allah, sebagaimana yang dikehendakinya. Semoga Allah meridhainya dan menjadikannya ridha kepadaNya.

Kisah Masuk Islamnya Seorang Dokter Amerika Karena Satu Ayat Al-Qur'an

Bookmark and Share
Beberapa tahun yang lalu, seorang teman bercerita kepadaku tentang kisah masuknya seorang dokter Amerika ke dalam Islam. Dari apa yang kuingat dari kisah yang indah ini adalah : Kisah ini terjadi pada salah satu rumah sakit di Amerika Serikat.

Di rumah sakit tersebut, seorang dokter muslim bekerja dengan keilmuan yang sangat baik, sehingga memberi pengaruh besar untuk mengenal beberapa dokter Amerika. Dan dia, dengan kemampuan tersebut mengundang decak kagum mereka. Diantara para dokter Amerika ini, dia mempunyai satu teman akrab yaitu orang yang memiliki kisah ini. Mereka berdua selalu bertemu dan keduanya bekerja pada bagian persalinan.

Pada suatu malam, di rumah sakit tersebut terjadi dua peristiwa persalinan secara bersamaan. Setelah kedua wanita itu melahirkan, dua bayi tersebut tercampur dan tidak ada yang mengetahui masing-masing pemilik kedua bayi yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan itu. Kerancuan ini terjadi disebabkan kecerobohan perawat yang seharusnya dia menulis nama ibu pada gelang yang diletakkan di tangan kedua bayi tersebut. Dan ketika kedua dokter tersebut tahu bahwa mereka berada dalam kebingungan; Siapakah ibu bayi laki-laki dan siapakah ibu bayi perempuan, maka dokter Amerika berkata kepada dokter Muslim,

"Engkau mengatakan bahwasanya Al-Qur?an telah menjelaskan segala sesuatu dan engkau mengatakan bahwasanya Al-Qur?an itu mencakup semua permasalahan-permasalahan apapun. Maka tunjukkanlah kepadaku cara mengetahui siapa ibu dari masing-masing bayi ini..!!"

Dokter Muslim itupun menjawab,

"Ya, Al-Qur?an telah menerangkan segala sesuatu dan akan aku buktikan kepadamu tentang hal itu. Biarkan kami mendiagnosa ASI kedua ibu dan kami akan menemukan jalan keluar."

Setelah nampak hasil diagnosa, dengan sangat percaya diri dokter muslim itu memberitahu temannya si dokter Amerika, siapakah ibu sebenarnya dari masing-masing bayi tersebut...!!!! Dokter Amerika itupun terheran-heran dan bertanya, "Bagaimana kamu tahu?"

Dokter Muslim menajwab

"Sesungguhnya hasil yang nampak menunjukkan bahwasanya kadar banyaknya ASI pada payudara ibu si bayi laki-laki dua kali lipat kandungannya dibanding ibu si bayi perempuan. Perbandingan kadar garam dan vitamin pada ASI si ibu bayi laki-laki itu juga dua kali lipat dibanding ibu si bayi perempuan."

Kemudian dokter muslim tersebut membacakan ayat Al-Qur?an yang dia jadikan dasar argumen dari jalan keluar itu,

"Bagi laki-laki seperti bagian dua perempuan." (QS. An-Nisa:11)

Dan setelah mendengarkan dokter Amerika itu arti ayat tersebut, dia jadi bengong, dan dia menyatakan keislamannya secara spontan tanpa ragu-ragu. Subhanallah, Maha Suci Allah Robb semesta alam.