..

Friends FOREVER
Image by Cool Text: Logo and Button Generator - Create Your Own
Showing posts with label bisnis rahasia suami isteri. Show all posts
Showing posts with label bisnis rahasia suami isteri. Show all posts

Wednesday, September 29, 2010

KISAH SUKSES PURDI E CHANDRA

Bookmark and Share
KISAH SUKSES PURDI E CHANDRA

 Purdi E Chandra lahir di Kota Gajah Putih - Lampung-  09 September 1959. Secara “tak resmi” Purdi sudah mulai berbisnis sejak ia masih duduk di bangku SMP di Lampung, yakni ketika dirinya beternak ayam dan bebek, dan kemudian menjual telurnya di pasar.

Bisnis “resminya” sendiri dimulai pada 10 Maret 1982, yakni ketika ia bersama teman-temannya mendirikan Lembaga Bimbingan Test Primagama (kemudian menjadi bimbingan belajar). Waktu mendirikan bisnisnya tersebut Purdi masih tercatat sebagai mahasiswa di 4 fakultas dari 2 Perguruan Tinggi Negeri di Yogyakarta. Namun karena merasa “tidak mendapat apa-apa” ia nekad meninggalkan dunia pendidikan untuk menggeluti dunia bisnis.

Dengan “jatuh bangun” Purdi menjalankan Primagama. Dari semula hanya 1 outlet dengan hanya 2 murid, Primagama sedikit demi sedikit berkembang. Kini murid Primagama sudah menjadi lebih dari 100 ribu orang per-tahun, dengan ratusan outlet di ratusan kota di Indonesia. Karena perkembangan itu Primagama ahirnya dikukuhkan sebagai Bimbingan Belajar Terbesar di Indonesia oleh MURI (Museum Rekor Indonesia).

Mengenai bisnisnya, Purdi mengaku banyak belajar dari ibunya. Sementara untuk masalah kepemimpinan dan organisasi, sang ayahlah yang lebih banyak memberi bimbingan dan arahan. Bekal dari kedua orang tua Purdi tersebut semakin lengkap dengan dukungan penuh sang Istri Triningsih Kusuma Astuti dan kedua putranya Fesha maupun Zidan. Pada awal-awal berdirinya Primagama, Purdi selalu ditemani sang istri untuk berkeliling kota di seluruh Indonesia membuka cabang-cabang Primagama. Dan atas bantuan istrinya pula usaha tersebut makin berkembang.

Kini Primagama sudah menjadi Holding Company yang membawahi lebih dari 20 anak perusahaan yang bergerak di berbagai bidang seperti: Pendidikan Formal, Pendidikan Non-Formal, Telekomunikasi, Biro Perjalanan, Rumah Makan, Supermarket, Asuransi, Meubelair, Lapangan Golf dan lain sebagainya.

Walaupun kesibukannya sebagai entrepreneur sangat tinggi, namun jiwa organisatoris Purdi tetap disalurkan di berbagai organisasi. Tercatat Purdi pernah menjabat sebagai Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) cabang Yogyakarta dan pengurus Kamar Dagang dan Industri Daerah (Kadinda) DIY. Selain itu Purdi pernah juga tercatat sebagai anggota MPR RI Utusan Daerah DIY. (sumber : www.purdiechandra.com)

Wawancara dengan Majalah BERWIRAUSAHA

Untuk jadi seorang entrepreneur sejati, tidak perlu IP tinggi, ijazah, apalagi modal uang. “Saat yang tepat itu justru saat kita tidak punya apa-apa. Pakai ilmu street smart saja,” ungkap Purdi E Chandra, Dirut Yayasan Primagama.

Menurutnya, kemampuan otak kanan yang kreatif dan inovatif saja sudah memadai. Banyak orang ragu berbisnis cuma gara-gara terlalu pintar. Sebaliknya, orang yang oleh guru-guru formal dianggap bodoh karena nilainya jelek, justru melejit jadi wirausahawan sukses.

“Masalahnya jika orang terlalu tahu risikonya, terlalu banyak berhitung, dia malah tidak akan berani buka usaha,” tambah ‘konglomerat bimbingan tes’ itu. Purdi yang lahir di Lampung 09 September 1959 memang jadi model wirausaha jalanan, plus modal nekad. la tinggalkan kuliahnya di empat fakultas di UGM dan IKIP Yogyakarta. Lalu dengan modal Rp.300 ribu ia dirikan lembaga bimbingan tes Primagama 10 Maret 1982 di Yogyakarta. Sebuah peluang bisnis potensial yang kala itu tidak banyak dilirik orang. la sukses membuat Primagama beromset hampir 70 milyar per tahun, dengan 200 outlet di lebih dari 106 kota. la dirikan IMKI, Restoran Sari Reja, Promarket, AMIKOM, Entrepreneur University, dan terakhir Sekolah Tinggi Psikologi di Yogyakarta.

Grup Primagama pun merambah bidang radio,penerbitan, jasa wisata, ritel, dll. Semua diawalkan dari keberanian mengambil risiko. Kini Purdi lebih banyak lagi ‘berdakwah’ tentang entrepreneurship. Bagi Purdi, entrepreneur sukses pastilah bisa menciptakan banyak lapangan kerja. Namun, itu saja tidak cukup berarti bagi bangsa ini. “Saya memimpikan bisa melahirkan banyak lagi pengusaha-pengusaha. Dengan demikian, makin banyak pula lapangan kerja diciptakan. Itulah Mega Entrepreneur,” ungkap Purdi kepada Edy Zaqeus dan David S. Simatupang dari Majalah BERWIRAUSAHA.

Berikut petikan wawancara yang berlangsung di kantor cabang Primagama Jakarta.

Bagaimana semangat wirausaha masyarakat kita?

Mungkin begini. Salahnya pendidikan kita itu, kebanyakan orang lulus sarjana baru cari kerja. Jadi pengusaha itu mungkin malah orang-orang yang kepepet. Yang tidak diterima di mana-mana, baru dia sadar dan bikin usaha sendiri. Mestinya, kesadaran seperti ini bisa untuk orang-orang yang tidak kepepet. Alasannya, kalau mau usaha harus ada modal, punya ketrampilan. Padahal tidak harus begitu. Saat yang tepat itu justru saat kita tidak punya apa-apa. Ibaratnya kalau kita punya ijazah pun, tidak usah dipikirin. Saya dulu tak tergantung dengan selembar kertas itu. Sekarang mau dijaminkan di bank juga tidak bisa. Hanya buat senang-senang saja kalau sudah sarjana.

Memang saya lihat pendidikan kita itu dari otak kiri saja. Padahal kalau kita garap yang kanan, porsinya banyak, maka otomatis otak kirinya naik. Tapi kalau kita banyakin kiri, kanan ndak ikut naik. Kanan itu adalah praktek. Saya bilang street smart.

Cerdas di lapangan, di jalanan. Orang yang akademik, sekolahnya pintar, IP atau nilai tinggi, dia tidak berani menentang teori. Jadi robotlah. Kalau di situ jadi topeng monyet. Dia tidak berani membuat kreasi sendiri. Padahal hidup dia itu bukan di masa lalu. Hidup dia itu kan di masa datang, dan itu serba berubah cepat. Tidak ada yang sama dengan teori yang dia pelajari. Teori itu kan hasil temuan. Kenapa kita tidak bisa menemukan sendiri? Saya punya contoh, manajemen di Primagama, yang tidak ada di teori. Kalau pun ada di teori pasti disalah-salahkan.

Apa itu?

Di Primagama, suami-istri bekerja dalam satu kantor itu malah kita anjurkan. Di lain tempat dan di teori itu ndak boleh! Tapi saya praktekkan, ternyata jalan, bagus. Saya melihat, mereka masing-masing bisa saling mengontrol. Maka, menantang teori itu yang utama. Saya malah bisa menaikkan omset Primagama 60%.

Contohnya lagi, iklan Primagama yang pakai aktor Rano Karno. Menurut orang kampus, dan pernah dibahas di sana, itu ndak bener! Menurut teori ndak benar. Tapi nyatanya, bagus hasilnya? Saya dulu pernah pakai Sarlito (pakar psikologi dan pendidikan:rec), malah ndak ada hasilnya, walau dia doktor atau apa. Jadi street smart itu…

Apa artinya street smart?

Cerdas di jalanan. Ada academic smart atau school smart. Tapi street smart itu cerdas dengan praktek. Jadi begini, kalau kita punya pengetahuan dengan benar, pengetahuan itu kan akademik. Kita tidak strong, gugur! Kita tidak akan bisa. Kita tidak akan bisa benar. Waktu SD itu ada bacaan-bacaan begini; “Ibu pergi ke pasar membeli sayur.” Kok tidak yang menjual sayur saja?

Kok kata-katanya selalu membeli, bukan menjual? Teryata setelah saya urut-urut, yang nulis itu guru. Coba kalau isinya diubah menjadi menjual, itu akan lain.

Kenapa tertarik menonjolkan sisi menjualnya?

Kalau saya bertransaksi, itu nilai tambah. Dalam transaksi, duit paling banyak itu kan pengusahanya? Dan paling banyak milik pengusaha. Coba kalau misalnya yang satu membeli saja. Akan terbatas transaksinya. Sehingga kalau memang harus banyak pengusahanya, ya untuk menjual.

Setuju dengan pemikiran Kiyosaki “If you want to be rich and happy, don’t go to school” ?

Kalau saya if you want to be rich and happy, ya…. Kalau ingin kaya, ngapain sekolah? Kalau di sekolah tidak akan happy dan kaya. Pendidikan kita tidak bikin happy, malah bikin stres anak. Porsi mainnya kurang. Sejak Taman Kanak-kanak sudah dipaksa main otak kiri. Mungkin itu karena dari mentrinya sampai orang-orang tuanya itu otak kiri semua, kan? Dikatakan figur yang bagus itu yang profesor, yang doktor. Padahal kalau kita pilah, yang pintar sekolah memang jadi dosen, jadi dokter. Yang sedang-sedang saja jadi manajer. Tapi yang bodo-bodo sekolahnya malah jadi pengusaha.

Penelitian di Harvard begitu. Penyikapan guru terhadap anak yang bodo kok divonis tidak punya masa depan? Mungkin dia berani, kreatif, bisa menemukan apa yang tidak ditemukan oleh anak-anak pintar.

Nah, pendidikan kita itu semua mau dijadikan ilmuwan. Seolah ngejar otak kiri saja, ngejar school smart saja.

Apa yang harus dilakukan untuk membongkar sistem seperti itu?

Memang berat karena dari dulu juga begitu. Maka harus lewat luar, kegiatan-kegiatan ekstra. Maka saya usulkan pendidikan kita dibuat dua sistem; sistem ijazah dan sistem tanpa ijazah. Kalau sekolah tanpa ijazah, orang akan cenderung cari ketrampilan dari praktek yang kelihatan. Yang pakai ijazah untuk yang mau jadi dosen, jadi dokter, jadi ilmuwan.

Kalau pelajaran kimia yang pakai ijazah, ya ilmuwan itulah. Kalau kimia yang tidak pakai ijazah, pilihannya ya bikin deterjen, bikin sirup, bikin apa saja yang ada manfaatnya. Kalau semua harus belajar kimia, padahal kita tidak tertarik, berarti dipaksa dan tidak happy jadi nya.

Kalau di tataran konseptual, apa yang mesti dilakukan?

Saya kira Dikbud itu merasa bahwa yang menentukan masa depan Indonesia itu dia. Bikin kurikulum, walaupun sumbernya dari masyarakat, tapi sering terlambat. Kurikulum tahun lalu baru dipakai sekarang. Lebih cepat di luar, kan? Maka kalau saya, pendidikan itu tidak usah diatur. Perguruan Tinggi siapa pun boleh bikin. Dan itu masyarakat yang menilai. Hukum pasar! Titel MBA atau apa dilarang, kenapa? Alamiah aja. Nanti kalau kebanjiran itu orang ndak mau pakai, kan ndak masalah? Kalau banyak manajer belajar ilmu untuk mendapatkan MBA, itu kan bagus? Dalam pendidikan itu sebenarnya mereka dagang.

Kalau model-model pendidikan itu masyarakat yang mengembangkan, mungkin baru bagus. Karena pas dengan zaman itu. Misalnya Mc Donald mau bikin Universitas Mc Donald, kenapa tidak?

Bagaimana dengan Entrepreneur University yang Anda dirikan?

Sebagai entrepreneur, Saya punya visi Mega Entrepreneur. Artinya bagaimana seorang pengusaha bisa menciptakan pengusaha lainnya. Kalau pengusaha bisa menciptakan lapangan kerja, itu sudah biasa. Yang saya kejar adalah bagaimana saya bisa menciptakan banyak pengusaha. Dulu visi saya memang menciptakan lapangan kerja sebanyak-banyaknya. Kalau seperti itu kan lama. Mungkin hanya ribuan lapangan kerja. Tapi kalau bisa menciptakan banyak pengusaha, lapangan kerja yang tercipta lebih banyak lagi.

Karyawan saya pun saya usahakan bisa jadi pengusaha. Kayak manajer-manajer saya, semua sudah punya usaha di luar. Saya ditentang oleh Renald Kasali. Katanya menurut teori itu tidak bisa. ‘Orang kerja kok diajak merangkap jadi pengusaha, itu ndak bisa!’. Saya praktekkan ternyata bisa. Manajer saya punya perusahaan mebel.

Menurut Kiyosaki, di sini dia sebagai employee, di luar dia sebagai business owner karena yang mengelola orang lain. Ada manajer saya yang buka bengkel motor. Sopir saya punya kenteng mobil. Sopir saya yang lain punya bisnis jual beli handphone.

Karyawan-karyawan itu mau jadi manajer semua ? ndak mungkin kan… Harapan paling besar saya, ya mereka jadi pengusaha.

Sejak kapan Entrepreneur University berjalan?

Entrepreneur University (EU) berjalan baru setahun. Sebelumnya kita sudah sering adakan pelatihan di mana-mana. Tapi cuma beberapa hari, lalu selesai tidak ada follow up. Sekarang lebih jelas, kita ada follow up. Misalnya kita adakan tiga bulan, setelah itu ada klub entrepreneur. Yang itu bisa dilakukan lewat internet, pertemuan-pertemuan, dan juga konsultasi seperti tadi. Di EU diutamakan yang indeks prestasinya (IP) rendah. Memang pernah ada yang protes, orang mau masuk tapi IP-nya tinggi, dia jadi minder. Tapi memang saya lebih mudah mengajar orang yang tidak pintar. Kalau otak kiri sudah kuat, susah berubahnya.

Misalnya dia kuliah di akuntansi, yang feasible tidak feasible, udah, ndak berani-berani dia. Usaha itu bukan perhitungan sebelumnya. Hitungan yang terjadi, itulah usaha. Banyak yang terjadi kita tidak tahu dan tidak kita pikirkan sebelumnya. Saya di Primagama dulu kalau dipikir tidak rasional. Modal saya cuma Rp.300 ribu saja. Sekarang asetnya sudah hampir Rp.100 milyar, kan?

Rasionalnya di mana?

Tadi seorang direksi bank yang ingin membuat usaha. Seperti dia, dihitung-hitung terus, selalu tidak positif. Akhirnya tidak berani buka usaha. Saya bilang, “Jangan dihitung terus!” Usaha itu dibuka, baru dihitung. Ini street smart. Kalau dihitung baru dibuka, ndak akan buka-buka usaha. Makanya, yang membuat orang takut itu bukan sisi gelap, tapi justru sisi terang. Karena terang itu tahu hitung-hitungannya, tahu risikonya gedhe, jadi takut. Kalau gelap, tidak tahu apa-apa, usaha itu tidak takut. Dihitung atau tidak dihitung itu sama saja kok.

Padahal entrepreneur harus berani ambil risiko…

Itulah, ambil risiko itu berarti harus gelap. Maksudnya jangan terlalu banyak tahu. Setelah jalan, kita pakai ilmu street smart tadi. Street smart itu yang melahirkan kecerdasan entrepreneur yang dibutuhkan untuk pemula usaha. Isi kecerdasan entrepreneur itu ya kecerdasan emosional, spiritual, dan basisnya di otak kanan.

Bagaimana cara Anda merealisasikan gagasan Mega Entrepreneur?

EU ini saya yang buka dan pelatihannya saya yang mengajar sendiri. Saya bukan cari untunglah, tapi semacam aktulisasilah buat saya. Karena saya ingin jadi Mega Entrepreneur tadi. Sehingga saya bela-belain, ndak harus untung. Kalau nombokpun saya mau untuk memberikan dakwah tentang entrepreneurship ini. Itu yang saya lakukan, dan sudah dua angkatan EU di lima kota. Perkembangan pesertanya cukup positif. Yang sama sekali tidak berani berusaha, kini jadi berani.

Bagaimana tren kewirausahaan ke depan?

Saya kira itu suatu keharusan. Kalau negara ini mau maju, harus banyak pengusahanya. Kita belum ada kementrian yang khusus mengurusi wirausaha. Di Indonesia banyak bisnis yang bisa dikembangkan menjadi franchise dan tidak harus yang mahal. Di Malaysia sudah ada kementriannya, dan mentrinya mendorong mereka yang mau usaha franchise dsb.

Bagaimana entrepreneur yang ideal itu?

Ukuran ideal saya adalah dari banyaknya lapangan kerja yang diciptakan. Pengusaha yang bisa melahirkan pengusaha-pengusaha baru. Bisnisnya kalau bisa yang baik-baiklah. Saya suka mengurusi bisnis yang langsung ke pasar. Yang menilai dan menentukan bisnis saya ya pasar. Saya ndak model dengan bisnis lobi-lobi yang harus berhubungan dengan pemerintah.

Pernah mengalami pencerahan selama menjadi entrepreneur?

Saya mengembangkan sisi spiritual melalui dzikir atau meditasi. Bisnis itu, kalau bisa ya melibatkan yang “di atas”. Tidak bisa berjalan dengan diri kita sendiri. Maka saya kembangkan kecerdasan spiritual. Kalau menggunakan intuisi saja, hanya bisa menunjukkan sesuatu tujuan itu seperti apa…. Tapi kalau dzikir, melibatkan Tuhan, kuncinya justru membuat tujuan itu terjadi.

Misalnya diramal orang kita tidak hoki. Dengan dzikir itu bisa jadi hoki. Yang tidak baik jadi baik. Arah negatif bisa jadi positif. Maka, menantang teori itu yang utama! Makanya, yang membuat orang takut itu bukan sisi gelap, tapi justru sisi terang.

Bangkit

Wujudkanlah mimpi anda, kembangkanlah “penglihatan pemikiran” yang selama ini terpendam, berikanlah arti pada hidup yang anda cintai ini. Semuanya berawal dari sebuah impian. Dunia dengan segala isinya diciptakan Tuhan dari “impian-Nya”.

Kisah-kisah keberhasilan para tokoh yang berhasil mengubah dunia, bermula dari mimpi, seperti apa yang dilakukan Galiileo, Thomas Alva Edison, Einstein, dan lain-lain. Bangunan-bangunan besar seperti candi dan piramid juga dimulai dari impian. Bahkan, majalah ini hingga akhirnya sampai ke tangan pembaca, juga diawali dari impian. Bila demikian, tampaknya segala sesuatu sangatlah mungkin untuk diwujudkan. Masalahnya adalah kebanyakan orang telah membuang jauh-jauh mimpi mereka ke tempat sampah, atau merasa bahwa mimpi mereka merupakan hal yang mustahil. Padahal, hampir semua mimpi bisa diwujudkan dengan sedikit kecerdikan, sedikit keberanian serta dukungan emosional.

Sebagai ilustrasi, pertengahan tahun 70-an Bill Gates bermimpi bahwa komputer akan tersedia di setiap rumah pada suatu masa nanti; Akio Morita bermimpi bisa mendengarkan musik favoritnya sambil main tenis, tanpa harus mengganggu tetangga kiri-kanan; atau Sosrodjoyo yang bermimpi nantinya orang-orang akan memilih teh botol bikinan pabrik daripada repot-repot menyeduhnya di rumah.

Tetapi perlu kiranya dibedakan antara “mendambakan” dan “memimpikan”. Mendambakan bersifat pasif dan menunggu, hanya merupakan selingan iseng tanpa otak, tanpa upaya untuk mewujudkannya. Sedang memimpikan bersifat aktif dan berani mengambil inisiatif. la didukung oleh rencana dan tindakan untuk membuahkan hasil.

Tokoh-tokoh yang disebut di atas adalah contoh perbuatan memimpikan. Mereka tidak sekadar beranganangan, melainkan berupaya keras mewujudkan impiannya. Microsoft, Sony, dan Teh Sosro adalah hasil nyata dari mimpi-mimpi mereka.

Singkatnya, penglihatan pikiran membuka pintu untuk mewujudkan impian kita. Namun begitu pintu tersebut terbuka, harus ada tindakan nyata berupa: disiplin, kebulatan tekad, kesabaran, dan ketekunan bila kita ingin membuat impian tersebut menjadi kenyataan. Penglihatan Pikiran

Pada hakikatnya setiap insan memiliki dua jenis penglihatan: penglihatan mata dan penglihatan pikiran. Penglihatan mata adalah apa yang kita lihat ada secara fisik di sekeliling kita, misalnya: mobil, gunung, pulpen atau teman-teman kita. Sebaliknya, penglihatan pikiran adalah sebuah kekuatan untuk melihat bukan apa yang ada secara fisik, tetapi apa yang bisa ada setelah intelegensia manusia diterapkan. Penglihatan pikiran adalah kekuatan untuk bermimpi. Dr. David Schwartch, dalam The Magic of Thinking Success, yakin bahwa perasaan kita yang paling tak ternilai harganya adalah penglihatan pikiran. Penglihatan tersebut membentuk gambaran masa depan yang kita harapkan, rumah yang kita idamkan, hubungan keluarga yang kita dambakan, liburan yang akan kita ambil, atau penghasilan yang akan kita nikmati kelak (sumber : www.purdiechandra.com)

Monday, September 13, 2010

Rahasia Sukses Bisnis Bersama Pasangan

Bookmark and Share
Rahasia Sukses Bisnis Bersama Pasangan


Tak usah bimbang  bila Anda ingin buka usaha bersama pasangan Anda. Anda berdua bisa tetap sukses. Kuncinya cuma Dua , kok! Mau tahu? Segera saja simak bahasan ahlinya di bawah ini.

Lihat saja Sukiatno Nugroho, juara lomba Es Teler tahun 1977, sukses mengembangkan bisnisnya berkat kerja samanya dengan sang istri. Konon, resep es telernya didapat Sukiatno dari istrinya. Setelah menang lomba, Sukiatno bersama istrinya mengembangkan usahanya menjadi warung es teler. Dari warung kecil di sebuah gang kini mereka telah mememiliki restoran yang tersebar hampir di seluruh propinsi Indonesia.

Contoh sukses bisnis Pasagan Suami-Isteri ( Es Teller 77 ) yang tetap jaya sampai saat ini dan tahan banting terhadap krisis yang sedang melanda dunia



Memang, aku Kafi Kurnia, usaha keluarga yang sukses seringkali diawali dari kerja sama antara sepasang suami-istri. Bukankah banyak juga toko/warung kecil yang dijalankan bersama antara suami-istri? "Suami melayani pembeli, istri menjadi kasir ataw sebaliknya . Setiap hari kegiatan tersebut dengan tekun mereka jalankan bersama dan penuh mesra , sampai akhirnya bisnis mereka makin besar," tutur direktur Peka Consult, sebuah lembaga konsultan keuangan dan manajemen ini.

Bisnis yang dikelola suami-istri, lanjut Kafi, umumnya berupa bisnis keluarga yang bersifat intrepeneur (wirausaha). "Jadi kayak Es Teler yang dikembangkan Sukiatno tersebut. Istrinya menang lomba, suaminya membisniskan resepnya, dan akhirnya bisnis Es Telernya dikembangkan bersama." Kombinasi yang kerap terjadi adalah suami mengembangkan dan istri menjalankan operasionalnya. Atau, sebaliknya.

KOMPAK DAN SALING PERCAYA

Konon, yang menjadi unsur penting dalam kelanggengan bisnis adalah kekompakan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Nah, bisnis yang dibangun bersama pasangan mempunyai kelebihan ini. "Pasangan yang dasarnya memang sudah kompak tinggal menggunakan kekompakan ini sebagai modal untuk berpartner dalam berwiraswasta," ujar Kafi.

Pasangan yang dasarnya memang sudah kompak dan saling percaya tinggal menggunakan kekompakan dan kepercayaannya ini sebagai modal untuk berpartner dalam berwiraswasta
Selain itu, bukankah bisnis seringkali mengandung tingkat kerahasiaan tinggi yang menuntut kepercayaan? Nah, suami-istri punya modal lebih dalam hal ini, mereka saling percaya. Jadi, rahasia bisnis keluarga, seperti resep masakan bagi yang membuka restoran atau kiat manajemen yang dijalankan, tak akan terbeber kemana-mana. Mereka bisa memegang rahasianya. Namun begitu, tak berarti semua suami-istri bisa melakukan bisnis bersama. "Hanya pasangan-pasangan tertentu saja yang bisa sukses, yaitu mereka yang bisa kompak dan saling percaya," tukas Kafi.

SAMA HOBI DAN KESENANGAN

Modal lain yang tak kalah penting ialah mempunyai kesamaan hobi dan kesenangan. "Jadi, kalau mau membuka usaha rumah makan, ya, suami-istri tersebut harus senang masak dan makan. Paling tidak, kalau hanya satu yang hobi masak, maka pasangannya harus hobi makan. Jadi punya common interest." Sebab, terang Kafi, bisnis keluarga tak akan sukses bila hanya mengandalkan skill ."Skill, kan, bisa dicari. Kita bisa menggaji orang lain yang memiliki skill tersebut."
Suami hobi makan dan Isteri hobi selalu mencoba jenis aneka masakan baru , ini salah satu modal untuk berbisnis dengan pasangan dibidang makanan atau rumah makan

Makanya, common interest alias punya kesamaan aspirasi sangat penting. Jangan lupa, bisnis yang dijalankan keluarga sifatnya wirausaha. Jadi, kalau mau enak menjalankannya, hobi dan kesenangan harus sama. Lagi pula, adanya kesamaan hobi dan kesenangan akan membuat bisnis berjalan dengan fun (senang). "Kalau bisnis keluarga mau maju, suami-istri yang menjalankannya harus merasa fun." Sebab, bila salah satu pasangan melakukannya dengan terpaksa, entah karena dipaksa pasangannya atau lantaran merasa kasihan melihat pasangannya tak ada yang membantu, maka umumnya jarang yang menjadi sukses. Bukankah ia sebetulnya tak suka berbisnis? Kalau orang melakukannya dengan terpaksa, tentu enggak bakalan fun , kan?

Anda mungkin perlu membaca ini juga :
1. Cara Mudah Membuat Restoran Ramai Pengunjung
2. Tips Sukses Membuka Usaha Rumah Makan 
3. Tinjauan Umum Usaha Restoran

Nah, bila bisnis yang dijalankan suami-istri tak lagi terasa menyenangkan bagi salah satu pihak, Kafi menganjurkan agar yang merasa terpaksa sebaiknya mengundurkan diri. "Siapa tahu kalau istrinya atau suaminya berpartner dengan orang lain, usahanya malah maju." Juga, kalau terus dipaksakan, bakal timbul konflik terus-menerus. "Kasihan, kan, anak-anaknya. Mereka akan melihat orang tuanya selalu bertengkar," ujar Kafi. Dalam berbisnis bersama, lanjutnya, suami-istri memang harus memiliki kepekaan yang tinggi. Maksudnya, peka melihat situasi. Jadi, kalau sudah enggak fun lagi, ya, jangan diteruskan.

SALAH SATU MERASA TERSISIH

Kendati bisnis bersama pasangan banyak menguntungkan, namun bukan berarti tak bakal ada masalah. "Bila suami lebih banyak melakukan deal bisnis dan menjalankan operasionalnya, bisa jadi ia semakin canggih. Sementara istrinya yang hanya mengurusi administrasi dan lebih banyak tinggal di kantor, tentunya akan ketinggalan." Akibatnya, makin lama gap di antara mereka makin besar. Buntutnya, salah satu pasti akan merasa tersisih. Kalau sudah begitu, tak ayal lagi, bisnis pun tak lagi terasa menyenangkan.

Sering terjadi, bila salah satu merasa tersisih, merasa yang lain lebih dominan, maka ketidakpuasannya itu akan terbawa ke rumah. Nah, menurut Kafi, pasangan yang demikian belum bisa membedakan urusan bisnis dan rumah tangga. "Mereka merasa kantor sama dengan rumah, sehingga mereka mau adu pengaruh supaya lebih dominan," terangnya. Namun tentu saja hal itu akan berdampak buruk, baik untuk hubungan suami-istri itu sendiri maupun sebagai partner bisnis. Untuk mengantisipasi timbulnya konflik seperti itu,

Kafi menyarankan agar ada pembagian yang jelas tentang tugas dan wewenang masing-masing pihak. "Bukankah di setiap organisasi pun selalu ada tugas dan wewenang masing-masing pihak yang terlibat? Karena itu, bisnis pun harus dilihat sebagai suatu organisasi." Tentunya setelah ada pembagian yang jelas, masing-masing pihak harus menghargai wewenang atau teritori pasangannya. Pembagian tugas yang jelas ini juga membantu agar salah satu pihak tak merasa tersisih atau dilangkahi. Misalnya, dalam mengambil setiap keputusan yang menyangkut urusan rumah tangga, istri selalu dilibatkan. Tapi kalau untuk urusan bisnis, bisa saja suami membuat keputusan tanpa melibatkan istri karena suami merasa itu sudah menjadi wewenangnya. "Kalau batasannya jelas, wewenangnya jelas, masing-masing tak melanggar rambu-rambu yang diberikan pasangannya, biasanya akan membuat bisnis lancar saja," tutur Kafi.


KOMUNIKASI SELALU DIJAGA

Suami-istri yang berhasil dalam bisnis, menurut Kafi, kebanyakan karena mereka saling mengisi, bukannya bersaing. Selain itu, tambahnya, harus disadari bahwa dalam bisnis manapun selalu ada pihak yang lebih tinggi dari yang lain. "Enggak ada, tuh, yang namanya equal partner dalam bisnis. Beda dengan kehidupan dalam rumah tangga, justru equal partner sangat penting." Jadi, kalau dalam bisnis suami-istri memposisikan dirinya sama tinggi, itu pasti menimbulkan masalah. "Mereka harus mau berbagi wewenang; harus ada supreme power di bisnis. Kalau partner setara dalam ide dan saham, sih, boleh, tapi harus ada yang lebih tinggi dalam leadership -nya," tutur Kafi.
jagalah selalu komunikasi anda dengan pasangan anda , bukankah dua otak akan lebih baik dibandingkan dengan satu otak saja...??

Sebagai jalan keluar, Kafi menyarankan agar komunikasi antara suami istri selalu dijaga. Jangan masing-masing tenggelam dalam kesibukannya sendiri di kantor. Ide-ide baru dan keinginan masing-masing pihak harus terus dibicarakan, supaya sebelum salah satu mengambil keputusan, paling tidak ia sudah tahu keinginan pasangannya. "Walaupun tak ada sharing dalam pengambilan keputusan, tapi dalam prosesnya istri mengerti, karena komunikasi dijalankan dengan sangat baik. They still communicate in the decision, tapi tak harus sharing the power . "

Konflik lain yang kerap muncul, bila masa-masa sulit dalam bisnis terbawa sampai ke rumah. Misalnya, bisnis sedang lesu, pelanggan jarang datang, order tak masuk atau kalah tender melulu, nah, efek psikologisnya bisa bermacam-macam. Suami/istri atau kedua-duanya bisa jadi kesal, lantas di rumah jadi marah-marah. Ini tentu akan mengganggu hubungan suami-istri. Jadi mesti diwaspadai.


DUKUNGAN MORAL

Memang, aku Kafi, ada juga pasangan yang berbisnis bersama namun tak mau membawa persoalan dalam bisnis ke rumah tangga. "Mereka bisa membedakan untuk tak membawa konflik rumah tangga ke bisnis dan sebaliknya. Pokoknya, di kantor urusan di kantor dan di rumah urusan di rumah," tuturnya. Hal ini tergantung dari tingkat "kecanggihan" relationship suami-istri tersebut. Itulah mengapa ada juga pasangan yang oke-oke saja membicarakan bisnis ke rumah dan menganggap itu malah bagus. "Bisnis mereka bisa lebih intens karena mereka terus berkomunikasi di rumah."

Keruwetan dalam bisnis dengan pasangan dapat juga berakibat pada hubungan harmonis rumah tangga Anda di rumah , maka diperlukan manajeman qolbu yang kuat untuk membagi urusan bisnis dengan urusan rumah tangga

Jadi, tergantung kesepakatan mereka. Selain itu, kalau mereka selalu kompak dan gembira dalam menjalankan bisnis bersama, "sebenarnya mereka mendapat manfaat lain, yaitu moral support yang didapat oleh masing-masing pihak," lanjut Kafi. Dukungan dan hiburan bila bisnis sedang sepi benar-benar bisa dirasakan oleh suami atau istri. "Moral support ini yang seringkali justru tak bisa didapat dari pegawai atau kompanyon bisnis yang lain." Jadi, Bu-Pak, rahasia suksesnya cuma kompak dan fun . Kalau fun-nya sudah hilang, maka kompaknya akan "tenggelam"; begitu juga sebaliknya. Selamat berbisnis dengan pasangan; semoga sukses!